cari arsip

11.15.2013

HelloProject#2 Keluasan Emosi dalam Menyapa Karya Oq

Minggu lalu Oq telah mempresentasikan karya-karyanya dengan cukup unik. Walaupun sang seniman utama berhalangan hadir karena sakit, namun tidak membatasi para peserta yang hadir untuk tetap berapresiasi. ‘dia’ sebagai subjek yang menggambarkan diri Oq minggu lalu telah membawa efek yang berbeda-beda bagi masing-masing keenam perempuan ini. Siapa sajakah mereka?

Kumpulan foto dalam showreal yang disajikan lewat film master menjadi awal presentasi dalam hello project Oq minggu ini. Foto-foto yang terbagi ke dalam tiga tema berbeda dibawakan oleh Dina. Perempuan imut berkacamata ini memilih tema foto; place, people, dan tentang gang. Tema foto yang pertama ia pilih dengan seksama, berisikan beberapa sudut kota Bandung yang telah ia datangi. Tema foto yang kedua menyajikan potret orang-orang yang masih di kota yang sama dengan bermacam-macam aktifitas. Sedangkan ‘tentang gang’ lebih mirip disebut sebagai cerita dalam foto, mengambil lokasi yang dekat dengan tempat tinggalnya, Dina menemukan hal-hal unik dari gang yang selalu dilaluinya itu. Dengan menghadirkan showreal tersebut, Dina membawa perasaannya sebagai ‘pendatang’ di kota Bandung tercinta ini. Perempuan bersuara imut ini mengatakan bahwa ia ingin menghadirkan perasaan yang sama dengan Oq. “Oq adalah pendatang di Jerman, dan saya juga pendatang di Bandung. Saya pikir walaupun berbeda tempat tapi mungkin saya dan Oq sempat merasakan hal yang sama” tuturnya.

Karya kedua dalam hello project kali ini hadir berupa gambar sketsa sederhana oleh Dini. Dengan latar belakang putih polos, kepala manusia tidak berwajah, dan empat topeng wajah manusia dengan mimik yang berbeda-beda. Berdasar pada karya Oq sebelumnya dalam Not QuintessentialSeries yang menggambarkan individu-individu yang berbeda dalam prosesnya menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar, Dini mendapati bahwa sebenarnya manusia bagaimanapun bisa menjadi apa saja. Baik yang diinginkan maupun tidak. Dengan menyederhanakan berbagai konteksnya ia memilih untuk menghadirkan yang dasar di dalam karyanya. “menurut saya, segala hal yang ragam itu berasal dari yang dasar. Sama hal nya dengan Oq, dia bisa membuat banyak karya dari hal-hal dasar yang melingkupi dirinya. Rasa tidak nyaman, bisa berkembang menuju perasaan-perasaan lainnya yang cukup mengganggu. Juga sebaliknya, rasa puas bisa mendatangkan perasaan yang lebih besar dan membahagiakan.” Ucapnya.

Karya selanjutnya adalah TheTrilogy Project versi Meicy. Dalam karyanya, Meicy menggunakan dirinya sendiri sebagai model. Pada Happy Family, ia menjadi ayah, ibu, sekaligus anak. Pada Happy Tourist pun juga sama. Pada Happy Employee ia menjadi seorang karyawati dengan make up cukup tebal. Perbedaannya dengan karya Oq di sini adalah mimik wajah yang dihadirkan dalam karya Meicy. Ia dapat menggambarkan perasaan yang terbawa pada prosesnya. Bagaimana ekspresi wajah dapat menunjukkan pribadi masing-masing manusia ketika dihadapkan pada kondisi pembekuan peristiwa berupa potret. Seolah-olah bagi siapapun yang melihatnya dapat mengerti bagaimana pribadi seseorang dari sebuah foto.

Masih dalam foto, karya selanjutnya adalah ‘sync mode on’ oleh Tarlen. Pemilik Tobucil sekaligus teman baik Oq ini menyajikan karya berupa tiga foto yang disatukan. Foto pertama adalah sang seniman yang tak hadir dalam posisi yoga, foto kedua adalah potret kota Borin di Jerman dengan segala keteraturannya, dan foto ketiga adalah salah satu sudut kota Bandung dengan kesehariannya. Proses sinkronasi yang dihadirkan dalam simbol pada karya Tarlen dihadirkan dalam transparasi yang sama. Ia berkata bahwa, proses itu belum selesai, sehingga bentuk transparasi yang sama mencerminkan bahwa tidak ada yang dominan. Foto-foto itu dipilih Tarlen sebagai representatif dari bentuk kekhawatiran seseorang terhadap teman baik. Bagaimana kedua tempat yang memiliki kondisi saling bertolak belakang – Borin sangat rapi, teratur, disiplin, dan Bandung yang cenderung chaos – itu dapat mempengaruhi diri Oq yang sekarang. Bagian mana yang akan Oq pilih dalam dirinya untuk tetap disimpan dalam diri, dan bagian mana yang akan Oq pilih untuk dihapus.

Alunan suara merdu dalam lagu berjudul ‘kupulang’ disajikan oleh Theo sang Perempuan Sore. Perempuan manis sekaligus mentor kelas Public Speaking ini membawa feeling dalam lagu ciptaannya yang bernada ‘kontradiktif’. Berdasarkan presentasi Oq minggu lalu, Theo mendapati bahwa ada sesuatu dalam diri Oq yang masih saling bergelut dalam menjalani pribadinya. Hal itu dikuatkan juga oleh Tesla, seorang pemusik yang hadir pada hello project ini. Menurut Tesla, nada yang dinyanyikan Theo saat mendendangkan kata ‘kupulang’ di akhir lagunya tidak mencerminkan rasa bahagia seseorang yang biasanya bahagia jika akan kembali ke tempat yang disebut ‘rumah’. Seperti ada perasaan yang lain yang berkebalikan dari rasa bahagia. Theo pun mengamini dengan menambahkan karya keduanya berupa rekaman siaran saat menyapa para pendengar. Siaran yang menceritakan kesedihan seorang perempuan yang baru saja patah hati namun diucapkan dengan intonasi yang ceria. Sangat kontradiktif bukan?

Penutup karya dalam presentasi hello project kali ini dibawakan Arum sang mentor acara. Sebagai penampil yang paling akhir, karya yang dibuatnya sangat menghebohkan. Berlandaskan pada ‘pencarian diri’ melalui self potrait yang didapatkan dari karya-karya Oq, Arum menyajikan perasaan yang hadir ketika seseorang menjadi seorang yang lain. Mengambil citra seseorang yang ingin menjadi seperti idolanya, Arum menghadirkan kumpulan foto seorang penyanyi dangdut yang tak lain adalah dirinya sendiri! Dengan riasan wajah mencolok, gaun kuning terang yang ketat, dan pose yang benar-benar penyanyi dangdut. Para peserta yang hadir sampai riuh melihat karyanya. Benar-benar heboh! Baginya, seorang penyanyi dangdut adalah sosok idola yang setara dengan profesi apapun yang dijalankan idola orang lain yang beragam.


11.14.2013

helloproject#1 Rupa-rupa dalam Menyapa Karya Amenk

Kali ini Sabtu 19 Oktober 2013 para seniman memenuhi beranda tobucil, khususnya untuk mengapresiasi karya dari Amenk yang pada dua minggu sebelumnya telah mempresentasikan karya-karyanya. Dalam helloproject tobucil, karya seorang seniman tidak hanya dipresentasikan, tetapi juga wajib diapresiasikan oleh para peserta yang hadir agar arah komunikasi dalam helloproject ini tidak monoton. Namun yang unik dari helloproject dalam apresiasi karya adalah dengan membuat karya lagi. Seperti Sabtu ini. Cukup banyak peserta helloprojectnya Amenk yang ingin memperihatkan karya mereka sebagai bentuk apresiasi.

Karya pertama dari  Luqmanul Hakim yang mengangkat gambar ‘Akhwat Merokiz’ namun dengan bentuk yang berbeda, mendetail, penuh kesan sensitivisme dan feminin dengan bunga-bunga sebagai motifnya. Pria berjanggut yang akrab di sapa Hakim ini berkata dalam pembuatan karyanya ia melihat Amenk dan karyanya yang selalu sederhana, tegas, dan lugas. Kesederhanaan itulah yang memberi pemahaman pada Hakim dalam membuat karya apresiasinya, bahwa dalam karya harus selalu ada ‘cara pribadi’ yang menjadi jiwa dari karya itu sendiri. Peserta kedua yang tampil setelah Hakim adalah Resa Tio yang menyajikan kolase digital. Masih dalam ‘Akhwat Merokiz’, ia memilih mengubah penampilan tiga perempuan dalam karyanya menjadi biarawati yang kepala bagian atasnya terpotong oleh tiga hewan yang berbeda. “masing-masing orang memiliki sisi kebinatangannya sendiri.” Ucapnya. Peserta lain yang juga mengapresiasi “Akhwat Merokiz” adalah Atjeh. Mengambil sisi satir dari karya Amenk, ia menghadirkan karya berupa poster film dengan perempuan berkerudung yang merokok dengan palu di tangan kiri dan arit di tangan kanannya. “ini adalah akhwat ‘kiri’ yah, seperti akhwat yang ‘Marxis’” ucapnya.

Lain halnya dengan Bambang, ia memilih mengapresiasi tiap bentuk teks dalam karya Amenk. Menurutnya, teks-teks atau wacana yang ada dalam karya Amenk sangat beragam, kadang sederhana, kadang penuh metafor, bahkan kadang tak bisa dimengerti. Bambang membuat karya yang sangat unik – alih-alih mengambil isu tembakau yang sedang cukup panas di dunia maya belakangan ini – sebuah bungkus rokok bermerek ‘Rokok Kont’ dengan warna kuning, merah, dan hitam. Alasan ia memilih warna-warna tersebut adalah berdasarkan representatif anak punk.

Sama halnya dengan Bambang, Ghandi dan Fika – duo seniman yang berduet secara total dalam HelloProject kali ini – juga mengangkat bentuk teks dalam karya Amenk. Mereka mentransformasikan setiap wacana dalam karya Amenk menjadi lagu yang beraliran ‘garage’. Lagu-lagu yang mereka buat juga mereka kemas dalam album berjudul ”BUAS” yang berbentuk CD dan kaset komplit dengan cover album dan packaging ciamik berwarna keemasan. Benar-benar total! Keduanya ingin menyajikan cara lain dalam menikmati sebuah karya, tidak melulu visual.

Karya yang tidak kalah unik juga dibawakan oleh Heri H. Suhandi atau Array dan Rabita. Keduanya  mengangkat karya Amenk “Punxxrock Berdikari dalam Sanubari Kemerdekaan”. Array membuat sebuah cerpen berupa hasil wawancara imajiner berjudul “cerita di baik es mambo”. Cerpen itu ia buat sebagai bentuk apresiasi karya Amenk dengan mengambil sisi filosofis yang baginya mungkin juga merepresentasikan apa yang Array lakukan sehari-hari. Sedangkan Rabita menyajikan gambar kolase boneka sang anak punk penjual es mambo yang bertumpuk hanya memakai kolor sebagai representatif anak-anak punk yang menjadi korban fashion.

Lukisan perempuan setengah jongkok dan penuh warna dibawakan oleh Morgan yang berdasarkan karya Amenk “Penantian”. Menurutnya, karya-karya Amenk selalu mengambil kejadian-kejadian nyata. Makanya, pemberian warna yang menyolok namun apik pada lukisan perempuan karya Morgan ia pilih sebagai bentuk penyelarasan dengan kenyataan. Baginya, dengan cara menonjolkan warna dalam karyanya, ia dapat melukiskan sisi sensitivisme pada Amenk.

Pemahaman sebuah karya pada setiap orang pastilah berbeda-beda, namun dalam karya Amenk di HelloProject ini, hampir semua pesertanya melihat bahwa karya-karya Amenk selalu mengambil hal-hal yang bersinggungan dengan kenyataan. Seperti foto-foto Jamu yang dibawakan Cintya Nur Pratiwi. Baginya, foto jamu itu selaras dengan karya Amenk yang sederhana secara visual, seperti penceritaan dalam keseharian yang bisa dipublikasikan.

Walaupun para seniman peserta HelloProject menyapa Amenk ini hampir seluruhnya melihat kesederhanaan dan keterkaitan dengan kenyataan dalam setiap karyanya Amenk, namun berbagai bentuk karya apresiasi mereka tak ada yang sama. Lain tubuh, lain juga pikiran. Berangkat dari kesederhanaan, kelugasan, dan berbagai nilai filosofis maupun praksis dalam tiap karya Amenk tidaklah membatasi keluasan bentuk apresiatif orang-orang terhadap karyanya. Mungkin saja justru sebaliknya, apa yang Amenk hadirkan dalam setiap karyanya itulah yang membuat para penikmatnya dapat melihat segala keluasan pandangan maupun pemahaman dibaliknya.


10.18.2013

12 Cara Menyapa Karya Mufti Priyanka a.k.a @amenkcoy

#1 Cara Cintya Nur Pratiwi 


























Biar Aa Kuat by Cintya Nur Pratiwi-2013


Ini Punya Neng by Cintya Nur Pratiwi-2013

Cara setiap orang merespon karya itu macam-macam,maka dari itu lahirlah sudut pandang dimana setiap karya bebas untuk diapresiasi. Foto jamu dipilih karena  jamu adalah minuman lokal yang lumrah mungkin setiap orang tahu apa itu jamu, seperti karya-karya Amenk yang mengangkat hal-hal lumrah dan bersinggungan dengan kehidupan kita sehari-hari. Dan foto ini diambil seperti posting-an foto di media jejaring sosial Instagram, melihat fenomena sekarang yang setiap hal bisa kita temui di media hanya untuk sekedar tahu ini atau itu apa meskipun padahal hal itu sangat dekat dengan kita. 


#2 Cara Ikbal Arifin






































kekacauan dalam kota

karya ini menceritakan tentang masyarakat yang berdemo di dalam kota .dan terjadi kekacauan kemudian ada seseorang yang membawa senjata, dia membunuh para pendemo dan polisi di karnakan dia tidak suka ada nya pendemo dan polisi yang hanya membuat kemacetan di dalam kota.


#3 Cara Bambang Trisunu








































karya2 Amenk Coy, selain saya nikmati kelezatan gambar2nya juga teks2nya yang amboi aduhai. ada yg menginterpretasikannya sinis, sarkas,satire, bodor, yunik, ah biasa bae dan banyak lagi nuansa legowo wong lanang & wedok yang menanggapinya. nahhh...lewat packaging bungkus rokok ini saya mencoba merepresentasikan apa yg biasa saya liat dlm artwork2 mang ameng. seperti warna bungkus yg merah dan hitam, merupakan representasi 'kultur punk', untuk 'teks slebor'nya saya coba tampilkan dibadian blekong. dan tak lupa sempalan-sempalan kritik saya selipkan dengan gaya ples..setan. :)


#4 Cara Rukmunal Hakim

























Akhwat Merokiz Selepas Tajil Berbuka Puasa Di Belakang Mushola
21 cm x 28,5 cm
pen on paper

Hal yang gwa dapat dari merespon karya Amenk (dan Hello Project secara keseluruhan) adalah kesadaran yang lebih akan cara gwa bercerita dalam gambar. Semua yang gw lihat dari karya Amenk, maka karya gw adalah kebalikannya. Gw sangat menikmati berlama-lama dengan detail serta menyimpan hal yang sederhana dibalik detail yang rumit. 
Ketika mengerjakan karya 'Ahkwat Merokiz', kesadaran itu seperti lebih terasa, mungkin itu dipengaruhi juga perbandingan langsung dengan karya Amenk yang sederhana dan direct. Karya saya ini secara kasat mata hanya terlihat seperti pengulangan karya dari Amenk, dengan ditambah banyak detail. Tapi, sebetulnya apa yang gw "dapat" ketika proses pengerjaan, itulah yang gw cari. 

Sebuah reminder akan apa yang sebenarnya saya nikmati dalam berkaya.


#5 Cara Gandhi & Fieka






































Buas merupakan nama dari sebuah grup myusik duo performance dari Gandhi dan Fieka. Untuk merespon akan dari karya Amenk. Ada 6 buah lagu + bonus  khusus yang kesemua liriknya berasal dari beberapa karya Amenk yang digubah, dicampur baur dan diolah sehingga menjadi racikan-racikan nada tak menentu untuk pendengar zaman ini,  menjadi tumpah dalam satu album. Berencana akan digandakan dalam bentuk Vinyl yang merebak sekarang, namun apalah daya produser belum melirik akan potensi ini. Sehingga nanti Buas akan menggandakannya dengan caranya sendiri.  Cover art berikut sleeve tentunya tak lupa diolah dengan terperinci. stiker-stiker maupun emblem jua tak ketinggalan, sebagai representatif khas hasil karya dari Amenk. kemudian selipan parodi dari gambarnya juga ada. Grup myusik duo performance ini berharap selalu curahan barokah do'a ibu. 
Terimakasih.

#6 Cara Resatio Adi Putra



Teknik: Digital Collage printed on concord paper

Ceritanya sih sederhana aja, hanya membikin ulang karya Amenk pake styleku sendiri, hanya yang asalnya gambar amenk orang orangnya tuh adalah mba mba jilbaban, kalo aku diganti sama biarawati. Pengen berbagi aja sih klo sesungguhnya tiap orang tuh punya sisi kebinatangannya juga, ada nakal-nakalnya dikit gitu. Jadi ga hanya mba mba jilbab aja, kita semua juga gitu kok. Gitu lah kira-kira.


Resatio lahir dan besar di Bandung, Indonesia, bekerja sebagai ilustrator kolase dan perancang grafis. Dia menggabungkan kolase dan rancang grafis menjadi sesuatu yang tidak biasa. Kata-kata yang dapat menggambarkan karyanya adalah: kekacauan yang terstruktur. Karya-karyanya telah ditampilkan di media online maupun media cetak seperti: Nylon, Elle, Amica, Jakarta Post Weekender, dan Beautiful/Decay.resatio.tumblr.com

#7 Cara Rabita Syahbunan
















Awalnya tuh aku mau bikin yang jadi boneka itu maksudnya mau nelanjangin anak punk itu kalo misal atributnya dilepas bakal tetep jadi punk atau engga, tapi tiba-tiba berubah gitu, hmm gimana ya, gara-gara liat sabtu malem hari gini jadi makin banyak banget anak punk, yang dandannya semarak, terus aku jadinya ambil kejadian itu agak2 mirip girl band yg di Indo yg ngikut2 gitu, gitu deh intinya, semoga bisa nyambung haha..

#8 Cara Achmad Ajis (Atjeh)










































Judul: Akhwat Kiri
Respon terhadap karya amenk : Akhwat Merokiz Selepas Tajil

Konsep : Salah satu  karakter di gambar "Akhwat Merokiz Selepas Tajil" naik level-nakal menjadi perokok cerutu, aktivis kiri, dan superhero.  Menjiplak poster B-Movie berjudul "Attack of the 50 Foot Woman (1958), trus di-pindai pake "Canon Scan LIDE 25". Kemudian dikasi tulisan di "Corel Draw X5" pake font "Double Feature", "Impact", "Niagara Solid", dan "Arial". Dan terakhir di-export menjadi "JPEG".


#9 Cara Heri H. Suhandi (Array)

Cerita Di Balik Es Mambo
Oleh Heri H. Suhandi (Array)

Matahari yangberada tepat diatas kepala tak menyurutkan saya untuk menemui seorang pemuda yang berdandan ala anak punk di daerah Kiaracondong. Pria ini dikenal dengan nama Mohek,penjual es mambo di sekitar stasiun Kiaracondong. Dia biasa berjualan dari sekitar pukul 10:00WIB hingga sore hari atau kadang-kadang tengah hari jika lagi marema. Rambut mohawk, jaket kulit penuh pacth, celana kotak-kotak, juga sendal jepit (kadang-kadang sepatu boots) merupakan cara dia bergaya setiap hari.

Pria yang mengaku bernama Rismawan dan berasal dari Kadungora ini berhasil saya temui di tempat biasa dia berjualan. Setelah mengutarakan maksud dan tujuan saya menemuinya. Dia pun mengajak saya mengunjungi rumah kontrakannya yang takjauh dari tempat dia mangkal. Disitulah saya melakukan wawancara, atau menurut dia istilahnya berbincang-bincang.
Baiklah selamat menyimak!

Ngomong-ngomong sudah berapa lama kamu berdandan seperti ini (anak punk)?
Sudah cukup lama ya, dari SMP-lah saya udah kaya gini. Tepatnya sekitar kelas dua-an gitu. Jadi kalo dihitung-hitung sih udah lebihlah dari sepuluh taunan mah (berhenti sejenak) empat belas taunan berarti.

Lama juga ya?
ya (menganguuk)

Berartikan kamu berdandan seperti ini udah lama ya, bisa diceritakan ngga awal mula kamu berdandan kaya gini?
Hmm.. gimana nya? awalnya sih gini, temen saya dulu wah geus  sobatlah ieu mah, waktu saya masih tinggal di Kadungora. Ada namanya Junaedi Ibrahim nya, panggilannya teh Jujun. Dia sering ke Banung (Bandung) sama bapaknya ikkut jualan. Nah kalo pulang tuh dia suka mawa kaset, band punk!  Sex Pistol! Teuingnya ori atau bajakanya mah nu  penting mah bisa ngadangu heula wehnya. Dari situ saya mulai kenal sama musik punk teh, terus stelan weh saya ikutin. Awalnya mah ngga mohek sih, rambut aja di acak-acakin. Orang lain bawain Slank yang Orkes Sakit Hati ( 999, 1999) tuh, tapi sayamah sama si Jujun gigitaran bawain Sex Pistol gitu yang Anarcgy In UK! Eta keos pisan bro!

Owh.. gitu ya.. Kenapa kamu bisa konsisten sampai sekarang Ris? Ris atau Mohek nih manggilnya?hehehe..
Hahaha.. Mohek weh lah biar lebih akrab, bener  teu bro?hahaha.. kumaha nya  bro? Itu mah semacam panggilan hati gitu euy, diperkenalkannya saya dengan Punk oleh si Jujun teh, bikin saya interesting pisan kitu. Saya jadi sering ke Banung  sama si Jujun, waktu SMP tuh. Soalnya kata si Jujun teh di Banung banyak anak punk dan ada band-band nan nya juga yang tampil. Nah mulai dari situ saya mulai mengenal jauh tentang punk teh, rambut mulai mohek meskipun kalo pulang kerumah mah didugulan ku si ema da jiga nu teu di warah kata si ema teh.hahahaha...

Mulai dari situ kamu mendalami punk?
Ya, tapi disitu baru hanya sekedar musiknya saja. Walaupun saya sampe memutuskan untuk melanjutkan sekolah saya di Banung ya, SMA, karena ada uwa saya di Banung. Jadi saheunteuna ada alasanlah buat saya sekolah di Banung, padahal mh pengen pang-pangan weh. Nah sewatu tinggal di Banunglah saya mulai menjelajah, mulai mengekplor kitu, setiap gigs datang! Dari mulai acara besar yang disponsori sampe acara udunanya temen-temen yang heurin dan bau cokor. Selepas gigs itu selalu ada after party ya minimal mabok-mabokan, sampe sharing, diskusi, ngobrol ngaler ngidul. Sampe- sampe saya suka mabal sekolah kalo lagi ada gigs teh, demi berkumpul sama anak-anak.

Wah, jadi sampe bela-belain gitu biar bisa punk-punk-an?
Nah, justru disitu menariknya teh, dunia saya jadi terbuka.

Maksudnya terbuka gimana?
Maksudnya gini, saya jadi bayak tau ngga cuma tentang punk sebagai musik. Tapi lebih dari itu punk sebagai  attitut, saya jadi tau tentang isu-isu global kaya dulu ada aksi demo di gedung sate tentang Anti-Neoliberal! Saya ikut, bombing bareng Kolektip Sirkel Ei (Circle A) saya ikut! Mayday hari buruh saya ikut, pokokna mah jadi sadar tentang keadaan politik yang mengguncang deh! Sampe ke pengertian sekolah itu sendiri. Dan satu hal yang penting lagi setelah saya ikut tejun di kolektip, saya belajar mandiri lewat etos D.I.Y. nya itu!

Owhh.. jadi ikut agenda-agenda aktivisme gitu dong?  Jadi inget politikal-punk gitu, menurut kamu gimana tuh?
Ya, begitulah itu sih dulu ya waktu tergabung dibeberapa kolektip saya suka ikut ngadain aksi, kaya FNB, bagiin flyer, poster, pamlet-pamlet pergerakan yang cenderung kekiri-kirian kalo kata orang mah. Tapi padahal mah bukan, itu mah presepsi orang aja, kadang juga sama anak-anak ngadain kelas-kelas dialektis Hegel, atau Marx dan lain-lain lah.

Eh, itu hek gimana tentang politikal-punk?
Oh iya, ah itu mah kalo kata saya sih simpel, politik mah cenderung ke sikap, nah kalo punk mah semangat!

Bisa lebih diperjelas?
Jadi maksudnya teh ya gini, kalo politik mah sikap, sikap kita menghadapi sesuatu. Misalnya sikap kita menghadapi esok hari, kita bisa makan ngga? Kira-kira analoginya kaya gitu. Misalnya lagi kalo ada orang yang minta-minta kaya pengemis ya,kita bakalan ngasih duit langsung atau ngajakin dia usaha yang lain dari pada minta-minta? Nah, sedangkan punk mah semangat! Semangat kita untuk mandiri, tanpa perlu bantuan dari orang-orang yang bakalan jerumusin kita, biasanya pemerintah. Tapi kadang temen juga ada yang gitu sih, ngeri oge lur nya.hehehe.. nya pokoknya mah Punk mah semangat  D.I.Y. atau berdikari kalo istilah bung Karno mah BERDIKARI gugling geura bro tentang Pidato  pak Karno NAWAKSARA saat Sidang Umum ka empat MPRS tangal 22 Juni 1966, nah didinya aya pengertian na, tapi saya bukan nasionalisnya.

Okey deh siap-siap ntar gugling hek, nah pertanyaan yang melenceng nih, selama terlibat di skena punknya, sampe sekarang punya pacar ngga?
Eh, naha jadi kadieu pertanyaan teh?

Intermezo atuh hek.hehehe
Ya, ada sih, tapi can benang-benang wae.hahaha.. makanya dagang heula ayeuna mah hasilna kan bisa beuli i-phone jeung nyeukil..

Waduh iya nih tapi agak sensitif nih pertanyaanya?
Mangga weh teu sawios..

Kenapa kamu jualan Es Mambo?
Ah eta mah kieu weh atuh, jadi intina mah saya pengen nunjukin gitu bahwa punk tuh kaya es mambo, pelepas dahaga di tengah teriknya matahari! Dan ini merupakan aksi kecil saya dengan cara berjualan es mambo, tapi stelan kaya gini. Buktinya banyak orang yang beuli dan saya bisa beuli I-phone tanpa kerja jadi buruh, tapi alus mah sih gawe weh sih ngarah ngajamin hirup di Endonesia mah.hahahaha..

Edaann!! Yaudah deh waktu juga yang harus memisahkan kita.
Eh rek kamana?

Biasa weh da ieu ge agenda kerja atuh hek.
Hahahaha.. lieurnya kompromi gawe ka batur mah?

Enya euy.hahaha.. eh ada pesan terakhir yang disampaikan?
Ah, kade weh eta mun di hareup gang aya emeng mah bebeja weh geus ti si Mohek, kaleum sok arusil soalna.. bejakeun weh Mohek!


 *************

Karya ini merupakan sebuah repons atas karya Amenk yang 'Punxxrock Berdikari dalam Sanubari Kemerdekaan', pada awalnya saya akan membuat cergam untuk mersepon karya-karya Amenk. Tapi saat di rumah tepat sekali saat saya berbaring di atas kasur dan membuka beberapa literasi alternatif serupa zine, newsletter, hingga bulletin masjid, tiba-tiba tiba-tiba memori saya seakan dibawa untuk beromantisme pada kereta-kereta ekonomi KRD, Bus Damri, dan perempatan jalan di Bandung yang kini mulai di huni oleh sirkus tradisional topeng monyet yang begitu memukau, walau di suatu sisi hal itu menyiksa monyet.

Sebelum tidur saya memikirkan hal itu, bayangan-bayangan yang tergambar dalam ingatan yang merupakan kumpulan memori-memori tersebut seakan memiliki kaita dengan karya-karya yang diciptakan Amenk. Ada ikatan emosi antara karya Amenk dan memori saya, apa lagi saat dia menciptakan tokoh-tokoh imajiner yang menggambarkan kenyataan yang terjadi, dan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dan disinilah kita akan melihat kejeniusan dari Amenk, spirit yang diangkat menurut saya secara personal tak jauh berbeda dengan spirit dari seniman-seniman pendahulu seperti S.Sudjojono, Agus Jaya Sumita bahkan Affandi. Namun jika mereka melakukan eksekusi karyanya dengan teknik lukis yang cukup rumit. Disinilah kejeniusan Amenk, eksekusi nya yang sederhana yang hanya hitam-putih menggunakan tinta Cina, kadang spidol mampu membangun suasana yang familiar dan  bernuansa humor yang mungkin sedikit menyindir dan picisan!  

***
Ide pun terbesit dengan sendirinya, tiba-tiba saya ingin membuat wawancara dengan salah satu karya Amenk. Dan setelah memilih beberapa karya, si punk es mambo lah yang terpilih untuk saya wawancara. Mengapa? Alasannya cukup sederhana dan mungkin paragraf sebelumnya sudah memberi gambaran yang blur. Karena saya mengalami secara langsung bersama-sama mereka saat saya harus naek kereta ekonomi dari yang terdekat jurusan Padalarang-Cicalengka, hingga yang terjauh ke ujung P.Jawa. Dan saat di perempatan jalan pun saya menemukan juga.

Jujur saya merasa risih saat di angkutan umum melihat orang berdandan demikian, tapi setelah saya berusaha membuka obrolan dengan mereka. Banyak dari mereka yang berstelan demikian itu memiliki wawasan yang hebat, jenius, dan memiliki nilai tentang kehidupan. Walau banyak juga yang ngga nyambung saat diajak ngobrol. Namun disitulah saya banyak belajar dan menemukan yang hal-hal baru yang kadang-kadang saya juga mengalami dan ternyata kocak.

Oleh karena itu, berbekal memori-memori yang tersimpan saya membuat wawancara imajiner dengan karya Amenk tersebut. Dan mungkin hal itu juga me-representasikan apa yang saya lakukan sehari-hari :D

Salam

#10 Cara Sigit Ramadhan


Thumbs Joke
Hardboardcut print on paper
30 x 40 cm
2013

Karya ini merespon pemikiran Mufti ‘Amenk’ Priyanka mengenai respon terhadap hal-hal sederhana yang sebenarnya terjadi dekat dengan keseharian kita. Karakter anak Punk yang hadir di beberapa karya Amenk menjadi subject matter yang menarik untuk direspon, selain keberadaan para Punkers tersebut yang dekat, mereka juga menjadi fenomena tersendiri di tengah kehidupan urban saat ini. Semangat untuk jujur seadanya dan terkadang bermain-main yang disajikan Amenk melalui karyanya menjadi salah satu hal yang menarik untuk diapresiasi, maka berdasarkan hal tersebut saya memberikan apresiasi terbesar saya melalui salam ‘jempol titit’.


Homage for Mufti ‘Amenk’ Priyanka!

#11. Cara Morrg







































#12. Cara Anto Arief

10.17.2013

Presentasi #helloproject1 Sabtu, 19 Oktober 2013 Pk. 15.00


helloproject#2 ‘DIA’ yang Bersama dengan Rizki Resa Utama (Oq)

Seperti biasa, pada hari Selasa saat sore menjelang malam, beranda Tobucil akan dibanjiri oleh para seniman yang membawa sedikit rasa penasaran. Mengingat bahwa landasan terciptanya wadah diskusi ini adalah perkenalan antar seniman dengan karyanya, dan juga bentuk-bentuk apresiasi terhadap sang seniman berupa karya, cukup unik bukan? Apalagi kali ini seniman yang berpresentasi adalah Rizki Resa Utama sang seniman muda yang lebih banyak beraktifitas di Jerman. Rasa penasaran mungkin akan sedikit bertambah, seperti apa karya yang akan dibawakan sang seniman muda yang akrab disapa Oq ini.
Tepat pukul lima Hello Project baru dimulai. Mengingat cuaca yang mendung dan hujan agak besar saat itu, membuat banyak orang yang hadir sedikit tersendat. Tetapi hal itu tidak menjadi masalah melihat beranda tobucil pada akhirnya dipenuhi para seniman yang ingin mengenal Oq beserta karyanya.
Hal yang cukup unik dalam presentasi Oq saat itu adalah penggunaan kata ganti ketiga untuk dirinya sendiri. Lelaki berambut gondrong dan berkacamata itu menyebutkan ‘dia’ untuk prespektif dirinya yang sedang dan akan diceritakan selama diskusi dan presentasi karya berlangsung. Dimulai dari ‘dia’ saat kecil yang diikuti slide show fotonya, latar belakang keluarga ‘dia’ yang seolah-olah mengharuskan setiap generasi keluarganya menjadi jurnalis, hingga ‘dia’ yang akhirnya nekat merantau ke negeri asing demi “hasratnya” yang ingin menjadi seniman.
Presentasi dilanjutkan dengan slide show karya-karya nya yang tidak keluar dari penggunaan ‘dia’ sebagai dirinya. Foto-foto yang terdiri dari dua frame yang memperlihatkan persamaan antara kedua objek fotonya namun berbeda subjek. Satu frame bersubjek perempuan dengan objek seorang penari balet, satu frame adalah ‘dia’ sebagai laki-laki namun juga berpakaian seorang penari balet. Begitu juga dengan foto-foto lainnya. Sebagai orang awam pada seni dalam fotografi, saya bisa menangkap bahwa sang ‘dia’ sepertinya ingin mengungkapkan kepada orang-orang bahwa kita bisa saja menjadi siapapun. Baik yang kita inginkan maupun yang tidak akan kita sangka-sangka. Sama hal nya dengan yang terjadi pada ‘dia’. Terbiasa menjalani kehidupan yang seolah-olah sudah dijuruskan menjadi sesuatu, namun pada akhirnya dirinya menolak menjalani itu.
Presentasi dilanjutkan dengan karya ‘dia’ berupa video. Di dalam video itu ‘dia’ dan temannya ‘dia’ saling berbicara dalam bahasa Jerman tetapi dengan mulut yang saling dijejali kepalan tangan. Tentu saja akan sedikit membingungkan bagi sebagian orang yang melihatnya (juga sedikit perasaan mual), apa sebenarnya maksud dari karyanya itu. Seperti yang telah dijelaskan dalam tulisan perkenalan Oq di hello.tobucil.net kesulitan berkomunikasi tanpa menggunakan bahasa ibu adalah permasalahan yang kerap dirasai setiap orang yang berada dalam lingkungan asing.
Permasalahan komunikasi yang menjadi landasan isu pertama yang dirasakan ‘dia’ menghasilkan karya-karyanya yang lain. “you don’t know what you got, until its gone” adalah sebuah perumpamaan yang melucut ‘dia’ ketika dihadapkan pada keragaman bahasa yang berbeda. Betapa jauh berbedanya penggunaan dan ketata bahasaan dalam bahasa Indonesia dengan bahasa Jerman. Hal itu ‘dia’ representasikan dalam “Heute” karya selanjutnya berupa video yang memperlihatkan ‘dia’ yang sedang menuliskan satu kalimat dengan kedua tangannya. Tangan kiri ‘dia’ gunakan untuk menulis kalimat dalam bahasa Indonesia, tangan kanan dengan bahasa Jerman.
Presentasi ditutup oleh trilogi karya ‘dia’ dalam “portrait” yang masih berada dalam lingkup segala hal mengenai “diri” alias sang ‘dia’. Bagaimana ‘dia’ menemukan jati dirinya, bagaimana diri ‘dia’ yang terkena dampak isu-isu di sekitar lingkungan tempat tinggalnya, hingga sejauh manakah ‘dia’ terbentuk oleh bermacam-macam influence di sekelilingnya.
Ideologi yang dibawakan Oq mengenai ‘dia’ yang seorang seniman dirasa cukup sederhana. Bagaimana caranya agar seorang seniman dapat menyampaikan ‘gejolak’ yang dirasai ‘dia’ untuk dibagikan kepada orang-orang di dalam karya-karyanya. Sebuah pandangan mengenai jati diri yang menimbulkan pertanyaan, apakah ‘dia’ adalah sebuah produk dari lingkungannya? Sebuah bentuk komunikasi dalam seni yang memediasi antara kegelisahan dirinya dengan isu-isu yang terjadi di sekitarnya.
Hal yang sama juga dirasai oleh para seniman yang hadir saat itu. Mengapa Oq harus menggunakan ‘dia’ padahal sang ‘dia’ adalah dirinya sendiri? Sebuah jawaban sederhana mungkin dapat dijadikan alasan, karena ‘dia’ adalah sebuah alat untuk melepaskan diri agar bisa leluasa mengkritisi. Membuat ‘dia’ sebagai alat yang ampuh dalam menjaga perasaan manusiawi yang kadang muncul jika seseorang telah mencapai suatu keberhasilan tertentu tidak akan menghalangi diri Oq untuk terus menerus menghasilkan karya-karyanya.
“Lalu menurut Oq, apakah Oq sudah menerangkan dan membawa ‘dia’ di sini dengan baik?”

”saya tidak tahu.” Jawabnya, sejalan dengan pepatah yang selalu dijadikan pegangan lelaki berkemeja putih itu “almost there, but its not there yet.” (Dini Zakia)

10.10.2013

Perubahan Jadwal Presentasi Hello Project #1


Hello Amenk dan teman teman

Saya tidak tahu ini kabar baik atau buruk ya..
Jadi presentasi karya hello project 1 terpaksa mundur dari Sabtu 12 Oktober berubah menjadi sabtu minggu depan tanggal 19 Oktober pukul 15.00
Semoga jadwal teman teman sabtu depan masih kosong. 

Bagi teman teman yang belum mengumpulkan karyanya, bisa berarti ini jadi kabar baik. Ayo buruan :)

Terimakasih banyak banyak 


Arum Dayu