cari arsip

10.18.2013

12 Cara Menyapa Karya Mufti Priyanka a.k.a @amenkcoy

#1 Cara Cintya Nur Pratiwi 


























Biar Aa Kuat by Cintya Nur Pratiwi-2013


Ini Punya Neng by Cintya Nur Pratiwi-2013

Cara setiap orang merespon karya itu macam-macam,maka dari itu lahirlah sudut pandang dimana setiap karya bebas untuk diapresiasi. Foto jamu dipilih karena  jamu adalah minuman lokal yang lumrah mungkin setiap orang tahu apa itu jamu, seperti karya-karya Amenk yang mengangkat hal-hal lumrah dan bersinggungan dengan kehidupan kita sehari-hari. Dan foto ini diambil seperti posting-an foto di media jejaring sosial Instagram, melihat fenomena sekarang yang setiap hal bisa kita temui di media hanya untuk sekedar tahu ini atau itu apa meskipun padahal hal itu sangat dekat dengan kita. 


#2 Cara Ikbal Arifin






































kekacauan dalam kota

karya ini menceritakan tentang masyarakat yang berdemo di dalam kota .dan terjadi kekacauan kemudian ada seseorang yang membawa senjata, dia membunuh para pendemo dan polisi di karnakan dia tidak suka ada nya pendemo dan polisi yang hanya membuat kemacetan di dalam kota.


#3 Cara Bambang Trisunu








































karya2 Amenk Coy, selain saya nikmati kelezatan gambar2nya juga teks2nya yang amboi aduhai. ada yg menginterpretasikannya sinis, sarkas,satire, bodor, yunik, ah biasa bae dan banyak lagi nuansa legowo wong lanang & wedok yang menanggapinya. nahhh...lewat packaging bungkus rokok ini saya mencoba merepresentasikan apa yg biasa saya liat dlm artwork2 mang ameng. seperti warna bungkus yg merah dan hitam, merupakan representasi 'kultur punk', untuk 'teks slebor'nya saya coba tampilkan dibadian blekong. dan tak lupa sempalan-sempalan kritik saya selipkan dengan gaya ples..setan. :)


#4 Cara Rukmunal Hakim

























Akhwat Merokiz Selepas Tajil Berbuka Puasa Di Belakang Mushola
21 cm x 28,5 cm
pen on paper

Hal yang gwa dapat dari merespon karya Amenk (dan Hello Project secara keseluruhan) adalah kesadaran yang lebih akan cara gwa bercerita dalam gambar. Semua yang gw lihat dari karya Amenk, maka karya gw adalah kebalikannya. Gw sangat menikmati berlama-lama dengan detail serta menyimpan hal yang sederhana dibalik detail yang rumit. 
Ketika mengerjakan karya 'Ahkwat Merokiz', kesadaran itu seperti lebih terasa, mungkin itu dipengaruhi juga perbandingan langsung dengan karya Amenk yang sederhana dan direct. Karya saya ini secara kasat mata hanya terlihat seperti pengulangan karya dari Amenk, dengan ditambah banyak detail. Tapi, sebetulnya apa yang gw "dapat" ketika proses pengerjaan, itulah yang gw cari. 

Sebuah reminder akan apa yang sebenarnya saya nikmati dalam berkaya.


#5 Cara Gandhi & Fieka






































Buas merupakan nama dari sebuah grup myusik duo performance dari Gandhi dan Fieka. Untuk merespon akan dari karya Amenk. Ada 6 buah lagu + bonus  khusus yang kesemua liriknya berasal dari beberapa karya Amenk yang digubah, dicampur baur dan diolah sehingga menjadi racikan-racikan nada tak menentu untuk pendengar zaman ini,  menjadi tumpah dalam satu album. Berencana akan digandakan dalam bentuk Vinyl yang merebak sekarang, namun apalah daya produser belum melirik akan potensi ini. Sehingga nanti Buas akan menggandakannya dengan caranya sendiri.  Cover art berikut sleeve tentunya tak lupa diolah dengan terperinci. stiker-stiker maupun emblem jua tak ketinggalan, sebagai representatif khas hasil karya dari Amenk. kemudian selipan parodi dari gambarnya juga ada. Grup myusik duo performance ini berharap selalu curahan barokah do'a ibu. 
Terimakasih.

#6 Cara Resatio Adi Putra



Teknik: Digital Collage printed on concord paper

Ceritanya sih sederhana aja, hanya membikin ulang karya Amenk pake styleku sendiri, hanya yang asalnya gambar amenk orang orangnya tuh adalah mba mba jilbaban, kalo aku diganti sama biarawati. Pengen berbagi aja sih klo sesungguhnya tiap orang tuh punya sisi kebinatangannya juga, ada nakal-nakalnya dikit gitu. Jadi ga hanya mba mba jilbab aja, kita semua juga gitu kok. Gitu lah kira-kira.


Resatio lahir dan besar di Bandung, Indonesia, bekerja sebagai ilustrator kolase dan perancang grafis. Dia menggabungkan kolase dan rancang grafis menjadi sesuatu yang tidak biasa. Kata-kata yang dapat menggambarkan karyanya adalah: kekacauan yang terstruktur. Karya-karyanya telah ditampilkan di media online maupun media cetak seperti: Nylon, Elle, Amica, Jakarta Post Weekender, dan Beautiful/Decay.resatio.tumblr.com

#7 Cara Rabita Syahbunan
















Awalnya tuh aku mau bikin yang jadi boneka itu maksudnya mau nelanjangin anak punk itu kalo misal atributnya dilepas bakal tetep jadi punk atau engga, tapi tiba-tiba berubah gitu, hmm gimana ya, gara-gara liat sabtu malem hari gini jadi makin banyak banget anak punk, yang dandannya semarak, terus aku jadinya ambil kejadian itu agak2 mirip girl band yg di Indo yg ngikut2 gitu, gitu deh intinya, semoga bisa nyambung haha..

#8 Cara Achmad Ajis (Atjeh)










































Judul: Akhwat Kiri
Respon terhadap karya amenk : Akhwat Merokiz Selepas Tajil

Konsep : Salah satu  karakter di gambar "Akhwat Merokiz Selepas Tajil" naik level-nakal menjadi perokok cerutu, aktivis kiri, dan superhero.  Menjiplak poster B-Movie berjudul "Attack of the 50 Foot Woman (1958), trus di-pindai pake "Canon Scan LIDE 25". Kemudian dikasi tulisan di "Corel Draw X5" pake font "Double Feature", "Impact", "Niagara Solid", dan "Arial". Dan terakhir di-export menjadi "JPEG".


#9 Cara Heri H. Suhandi (Array)

Cerita Di Balik Es Mambo
Oleh Heri H. Suhandi (Array)

Matahari yangberada tepat diatas kepala tak menyurutkan saya untuk menemui seorang pemuda yang berdandan ala anak punk di daerah Kiaracondong. Pria ini dikenal dengan nama Mohek,penjual es mambo di sekitar stasiun Kiaracondong. Dia biasa berjualan dari sekitar pukul 10:00WIB hingga sore hari atau kadang-kadang tengah hari jika lagi marema. Rambut mohawk, jaket kulit penuh pacth, celana kotak-kotak, juga sendal jepit (kadang-kadang sepatu boots) merupakan cara dia bergaya setiap hari.

Pria yang mengaku bernama Rismawan dan berasal dari Kadungora ini berhasil saya temui di tempat biasa dia berjualan. Setelah mengutarakan maksud dan tujuan saya menemuinya. Dia pun mengajak saya mengunjungi rumah kontrakannya yang takjauh dari tempat dia mangkal. Disitulah saya melakukan wawancara, atau menurut dia istilahnya berbincang-bincang.
Baiklah selamat menyimak!

Ngomong-ngomong sudah berapa lama kamu berdandan seperti ini (anak punk)?
Sudah cukup lama ya, dari SMP-lah saya udah kaya gini. Tepatnya sekitar kelas dua-an gitu. Jadi kalo dihitung-hitung sih udah lebihlah dari sepuluh taunan mah (berhenti sejenak) empat belas taunan berarti.

Lama juga ya?
ya (menganguuk)

Berartikan kamu berdandan seperti ini udah lama ya, bisa diceritakan ngga awal mula kamu berdandan kaya gini?
Hmm.. gimana nya? awalnya sih gini, temen saya dulu wah geus  sobatlah ieu mah, waktu saya masih tinggal di Kadungora. Ada namanya Junaedi Ibrahim nya, panggilannya teh Jujun. Dia sering ke Banung (Bandung) sama bapaknya ikkut jualan. Nah kalo pulang tuh dia suka mawa kaset, band punk!  Sex Pistol! Teuingnya ori atau bajakanya mah nu  penting mah bisa ngadangu heula wehnya. Dari situ saya mulai kenal sama musik punk teh, terus stelan weh saya ikutin. Awalnya mah ngga mohek sih, rambut aja di acak-acakin. Orang lain bawain Slank yang Orkes Sakit Hati ( 999, 1999) tuh, tapi sayamah sama si Jujun gigitaran bawain Sex Pistol gitu yang Anarcgy In UK! Eta keos pisan bro!

Owh.. gitu ya.. Kenapa kamu bisa konsisten sampai sekarang Ris? Ris atau Mohek nih manggilnya?hehehe..
Hahaha.. Mohek weh lah biar lebih akrab, bener  teu bro?hahaha.. kumaha nya  bro? Itu mah semacam panggilan hati gitu euy, diperkenalkannya saya dengan Punk oleh si Jujun teh, bikin saya interesting pisan kitu. Saya jadi sering ke Banung  sama si Jujun, waktu SMP tuh. Soalnya kata si Jujun teh di Banung banyak anak punk dan ada band-band nan nya juga yang tampil. Nah mulai dari situ saya mulai mengenal jauh tentang punk teh, rambut mulai mohek meskipun kalo pulang kerumah mah didugulan ku si ema da jiga nu teu di warah kata si ema teh.hahahaha...

Mulai dari situ kamu mendalami punk?
Ya, tapi disitu baru hanya sekedar musiknya saja. Walaupun saya sampe memutuskan untuk melanjutkan sekolah saya di Banung ya, SMA, karena ada uwa saya di Banung. Jadi saheunteuna ada alasanlah buat saya sekolah di Banung, padahal mh pengen pang-pangan weh. Nah sewatu tinggal di Banunglah saya mulai menjelajah, mulai mengekplor kitu, setiap gigs datang! Dari mulai acara besar yang disponsori sampe acara udunanya temen-temen yang heurin dan bau cokor. Selepas gigs itu selalu ada after party ya minimal mabok-mabokan, sampe sharing, diskusi, ngobrol ngaler ngidul. Sampe- sampe saya suka mabal sekolah kalo lagi ada gigs teh, demi berkumpul sama anak-anak.

Wah, jadi sampe bela-belain gitu biar bisa punk-punk-an?
Nah, justru disitu menariknya teh, dunia saya jadi terbuka.

Maksudnya terbuka gimana?
Maksudnya gini, saya jadi bayak tau ngga cuma tentang punk sebagai musik. Tapi lebih dari itu punk sebagai  attitut, saya jadi tau tentang isu-isu global kaya dulu ada aksi demo di gedung sate tentang Anti-Neoliberal! Saya ikut, bombing bareng Kolektip Sirkel Ei (Circle A) saya ikut! Mayday hari buruh saya ikut, pokokna mah jadi sadar tentang keadaan politik yang mengguncang deh! Sampe ke pengertian sekolah itu sendiri. Dan satu hal yang penting lagi setelah saya ikut tejun di kolektip, saya belajar mandiri lewat etos D.I.Y. nya itu!

Owhh.. jadi ikut agenda-agenda aktivisme gitu dong?  Jadi inget politikal-punk gitu, menurut kamu gimana tuh?
Ya, begitulah itu sih dulu ya waktu tergabung dibeberapa kolektip saya suka ikut ngadain aksi, kaya FNB, bagiin flyer, poster, pamlet-pamlet pergerakan yang cenderung kekiri-kirian kalo kata orang mah. Tapi padahal mah bukan, itu mah presepsi orang aja, kadang juga sama anak-anak ngadain kelas-kelas dialektis Hegel, atau Marx dan lain-lain lah.

Eh, itu hek gimana tentang politikal-punk?
Oh iya, ah itu mah kalo kata saya sih simpel, politik mah cenderung ke sikap, nah kalo punk mah semangat!

Bisa lebih diperjelas?
Jadi maksudnya teh ya gini, kalo politik mah sikap, sikap kita menghadapi sesuatu. Misalnya sikap kita menghadapi esok hari, kita bisa makan ngga? Kira-kira analoginya kaya gitu. Misalnya lagi kalo ada orang yang minta-minta kaya pengemis ya,kita bakalan ngasih duit langsung atau ngajakin dia usaha yang lain dari pada minta-minta? Nah, sedangkan punk mah semangat! Semangat kita untuk mandiri, tanpa perlu bantuan dari orang-orang yang bakalan jerumusin kita, biasanya pemerintah. Tapi kadang temen juga ada yang gitu sih, ngeri oge lur nya.hehehe.. nya pokoknya mah Punk mah semangat  D.I.Y. atau berdikari kalo istilah bung Karno mah BERDIKARI gugling geura bro tentang Pidato  pak Karno NAWAKSARA saat Sidang Umum ka empat MPRS tangal 22 Juni 1966, nah didinya aya pengertian na, tapi saya bukan nasionalisnya.

Okey deh siap-siap ntar gugling hek, nah pertanyaan yang melenceng nih, selama terlibat di skena punknya, sampe sekarang punya pacar ngga?
Eh, naha jadi kadieu pertanyaan teh?

Intermezo atuh hek.hehehe
Ya, ada sih, tapi can benang-benang wae.hahaha.. makanya dagang heula ayeuna mah hasilna kan bisa beuli i-phone jeung nyeukil..

Waduh iya nih tapi agak sensitif nih pertanyaanya?
Mangga weh teu sawios..

Kenapa kamu jualan Es Mambo?
Ah eta mah kieu weh atuh, jadi intina mah saya pengen nunjukin gitu bahwa punk tuh kaya es mambo, pelepas dahaga di tengah teriknya matahari! Dan ini merupakan aksi kecil saya dengan cara berjualan es mambo, tapi stelan kaya gini. Buktinya banyak orang yang beuli dan saya bisa beuli I-phone tanpa kerja jadi buruh, tapi alus mah sih gawe weh sih ngarah ngajamin hirup di Endonesia mah.hahahaha..

Edaann!! Yaudah deh waktu juga yang harus memisahkan kita.
Eh rek kamana?

Biasa weh da ieu ge agenda kerja atuh hek.
Hahahaha.. lieurnya kompromi gawe ka batur mah?

Enya euy.hahaha.. eh ada pesan terakhir yang disampaikan?
Ah, kade weh eta mun di hareup gang aya emeng mah bebeja weh geus ti si Mohek, kaleum sok arusil soalna.. bejakeun weh Mohek!


 *************

Karya ini merupakan sebuah repons atas karya Amenk yang 'Punxxrock Berdikari dalam Sanubari Kemerdekaan', pada awalnya saya akan membuat cergam untuk mersepon karya-karya Amenk. Tapi saat di rumah tepat sekali saat saya berbaring di atas kasur dan membuka beberapa literasi alternatif serupa zine, newsletter, hingga bulletin masjid, tiba-tiba tiba-tiba memori saya seakan dibawa untuk beromantisme pada kereta-kereta ekonomi KRD, Bus Damri, dan perempatan jalan di Bandung yang kini mulai di huni oleh sirkus tradisional topeng monyet yang begitu memukau, walau di suatu sisi hal itu menyiksa monyet.

Sebelum tidur saya memikirkan hal itu, bayangan-bayangan yang tergambar dalam ingatan yang merupakan kumpulan memori-memori tersebut seakan memiliki kaita dengan karya-karya yang diciptakan Amenk. Ada ikatan emosi antara karya Amenk dan memori saya, apa lagi saat dia menciptakan tokoh-tokoh imajiner yang menggambarkan kenyataan yang terjadi, dan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dan disinilah kita akan melihat kejeniusan dari Amenk, spirit yang diangkat menurut saya secara personal tak jauh berbeda dengan spirit dari seniman-seniman pendahulu seperti S.Sudjojono, Agus Jaya Sumita bahkan Affandi. Namun jika mereka melakukan eksekusi karyanya dengan teknik lukis yang cukup rumit. Disinilah kejeniusan Amenk, eksekusi nya yang sederhana yang hanya hitam-putih menggunakan tinta Cina, kadang spidol mampu membangun suasana yang familiar dan  bernuansa humor yang mungkin sedikit menyindir dan picisan!  

***
Ide pun terbesit dengan sendirinya, tiba-tiba saya ingin membuat wawancara dengan salah satu karya Amenk. Dan setelah memilih beberapa karya, si punk es mambo lah yang terpilih untuk saya wawancara. Mengapa? Alasannya cukup sederhana dan mungkin paragraf sebelumnya sudah memberi gambaran yang blur. Karena saya mengalami secara langsung bersama-sama mereka saat saya harus naek kereta ekonomi dari yang terdekat jurusan Padalarang-Cicalengka, hingga yang terjauh ke ujung P.Jawa. Dan saat di perempatan jalan pun saya menemukan juga.

Jujur saya merasa risih saat di angkutan umum melihat orang berdandan demikian, tapi setelah saya berusaha membuka obrolan dengan mereka. Banyak dari mereka yang berstelan demikian itu memiliki wawasan yang hebat, jenius, dan memiliki nilai tentang kehidupan. Walau banyak juga yang ngga nyambung saat diajak ngobrol. Namun disitulah saya banyak belajar dan menemukan yang hal-hal baru yang kadang-kadang saya juga mengalami dan ternyata kocak.

Oleh karena itu, berbekal memori-memori yang tersimpan saya membuat wawancara imajiner dengan karya Amenk tersebut. Dan mungkin hal itu juga me-representasikan apa yang saya lakukan sehari-hari :D

Salam

#10 Cara Sigit Ramadhan


Thumbs Joke
Hardboardcut print on paper
30 x 40 cm
2013

Karya ini merespon pemikiran Mufti ‘Amenk’ Priyanka mengenai respon terhadap hal-hal sederhana yang sebenarnya terjadi dekat dengan keseharian kita. Karakter anak Punk yang hadir di beberapa karya Amenk menjadi subject matter yang menarik untuk direspon, selain keberadaan para Punkers tersebut yang dekat, mereka juga menjadi fenomena tersendiri di tengah kehidupan urban saat ini. Semangat untuk jujur seadanya dan terkadang bermain-main yang disajikan Amenk melalui karyanya menjadi salah satu hal yang menarik untuk diapresiasi, maka berdasarkan hal tersebut saya memberikan apresiasi terbesar saya melalui salam ‘jempol titit’.


Homage for Mufti ‘Amenk’ Priyanka!

#11. Cara Morrg







































#12. Cara Anto Arief

1 comment: