cari arsip

10.17.2013

helloproject#2 ‘DIA’ yang Bersama dengan Rizki Resa Utama (Oq)

Seperti biasa, pada hari Selasa saat sore menjelang malam, beranda Tobucil akan dibanjiri oleh para seniman yang membawa sedikit rasa penasaran. Mengingat bahwa landasan terciptanya wadah diskusi ini adalah perkenalan antar seniman dengan karyanya, dan juga bentuk-bentuk apresiasi terhadap sang seniman berupa karya, cukup unik bukan? Apalagi kali ini seniman yang berpresentasi adalah Rizki Resa Utama sang seniman muda yang lebih banyak beraktifitas di Jerman. Rasa penasaran mungkin akan sedikit bertambah, seperti apa karya yang akan dibawakan sang seniman muda yang akrab disapa Oq ini.
Tepat pukul lima Hello Project baru dimulai. Mengingat cuaca yang mendung dan hujan agak besar saat itu, membuat banyak orang yang hadir sedikit tersendat. Tetapi hal itu tidak menjadi masalah melihat beranda tobucil pada akhirnya dipenuhi para seniman yang ingin mengenal Oq beserta karyanya.
Hal yang cukup unik dalam presentasi Oq saat itu adalah penggunaan kata ganti ketiga untuk dirinya sendiri. Lelaki berambut gondrong dan berkacamata itu menyebutkan ‘dia’ untuk prespektif dirinya yang sedang dan akan diceritakan selama diskusi dan presentasi karya berlangsung. Dimulai dari ‘dia’ saat kecil yang diikuti slide show fotonya, latar belakang keluarga ‘dia’ yang seolah-olah mengharuskan setiap generasi keluarganya menjadi jurnalis, hingga ‘dia’ yang akhirnya nekat merantau ke negeri asing demi “hasratnya” yang ingin menjadi seniman.
Presentasi dilanjutkan dengan slide show karya-karya nya yang tidak keluar dari penggunaan ‘dia’ sebagai dirinya. Foto-foto yang terdiri dari dua frame yang memperlihatkan persamaan antara kedua objek fotonya namun berbeda subjek. Satu frame bersubjek perempuan dengan objek seorang penari balet, satu frame adalah ‘dia’ sebagai laki-laki namun juga berpakaian seorang penari balet. Begitu juga dengan foto-foto lainnya. Sebagai orang awam pada seni dalam fotografi, saya bisa menangkap bahwa sang ‘dia’ sepertinya ingin mengungkapkan kepada orang-orang bahwa kita bisa saja menjadi siapapun. Baik yang kita inginkan maupun yang tidak akan kita sangka-sangka. Sama hal nya dengan yang terjadi pada ‘dia’. Terbiasa menjalani kehidupan yang seolah-olah sudah dijuruskan menjadi sesuatu, namun pada akhirnya dirinya menolak menjalani itu.
Presentasi dilanjutkan dengan karya ‘dia’ berupa video. Di dalam video itu ‘dia’ dan temannya ‘dia’ saling berbicara dalam bahasa Jerman tetapi dengan mulut yang saling dijejali kepalan tangan. Tentu saja akan sedikit membingungkan bagi sebagian orang yang melihatnya (juga sedikit perasaan mual), apa sebenarnya maksud dari karyanya itu. Seperti yang telah dijelaskan dalam tulisan perkenalan Oq di hello.tobucil.net kesulitan berkomunikasi tanpa menggunakan bahasa ibu adalah permasalahan yang kerap dirasai setiap orang yang berada dalam lingkungan asing.
Permasalahan komunikasi yang menjadi landasan isu pertama yang dirasakan ‘dia’ menghasilkan karya-karyanya yang lain. “you don’t know what you got, until its gone” adalah sebuah perumpamaan yang melucut ‘dia’ ketika dihadapkan pada keragaman bahasa yang berbeda. Betapa jauh berbedanya penggunaan dan ketata bahasaan dalam bahasa Indonesia dengan bahasa Jerman. Hal itu ‘dia’ representasikan dalam “Heute” karya selanjutnya berupa video yang memperlihatkan ‘dia’ yang sedang menuliskan satu kalimat dengan kedua tangannya. Tangan kiri ‘dia’ gunakan untuk menulis kalimat dalam bahasa Indonesia, tangan kanan dengan bahasa Jerman.
Presentasi ditutup oleh trilogi karya ‘dia’ dalam “portrait” yang masih berada dalam lingkup segala hal mengenai “diri” alias sang ‘dia’. Bagaimana ‘dia’ menemukan jati dirinya, bagaimana diri ‘dia’ yang terkena dampak isu-isu di sekitar lingkungan tempat tinggalnya, hingga sejauh manakah ‘dia’ terbentuk oleh bermacam-macam influence di sekelilingnya.
Ideologi yang dibawakan Oq mengenai ‘dia’ yang seorang seniman dirasa cukup sederhana. Bagaimana caranya agar seorang seniman dapat menyampaikan ‘gejolak’ yang dirasai ‘dia’ untuk dibagikan kepada orang-orang di dalam karya-karyanya. Sebuah pandangan mengenai jati diri yang menimbulkan pertanyaan, apakah ‘dia’ adalah sebuah produk dari lingkungannya? Sebuah bentuk komunikasi dalam seni yang memediasi antara kegelisahan dirinya dengan isu-isu yang terjadi di sekitarnya.
Hal yang sama juga dirasai oleh para seniman yang hadir saat itu. Mengapa Oq harus menggunakan ‘dia’ padahal sang ‘dia’ adalah dirinya sendiri? Sebuah jawaban sederhana mungkin dapat dijadikan alasan, karena ‘dia’ adalah sebuah alat untuk melepaskan diri agar bisa leluasa mengkritisi. Membuat ‘dia’ sebagai alat yang ampuh dalam menjaga perasaan manusiawi yang kadang muncul jika seseorang telah mencapai suatu keberhasilan tertentu tidak akan menghalangi diri Oq untuk terus menerus menghasilkan karya-karyanya.
“Lalu menurut Oq, apakah Oq sudah menerangkan dan membawa ‘dia’ di sini dengan baik?”

”saya tidak tahu.” Jawabnya, sejalan dengan pepatah yang selalu dijadikan pegangan lelaki berkemeja putih itu “almost there, but its not there yet.” (Dini Zakia)

No comments:

Post a Comment