cari arsip

10.03.2013

#HelloProject2 Jalan Gelisah Milik “Oq”

Perjalanan itu milik “Oq”. Ia mengumpulkannya dalam satu per satu potretnya tentang gelang manik-manik bertuliskan Anna, ikat rambut, koin, kacamata, tutup botol, dan benda-benda kecil lainnya. Benda-benda tercecer dan terlupakan itulah yang ternyata menemukan dirinya seperti saat ini. “Lalu, apakah memang saya akan menjadi seniman pada akhirnya?” ungkapnya.

“Oq”, begitulah Riski Resa Utama akrab dipanggil. Ia lahir di Bandung, 28 April 1982. Di kota yang sama ia mengecap pendidikan di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, tahun 2000. Sebuah jurusan yang menuntunnya tak jauh dari dunia fotografi yang dikenalkan ayahnya sedari kecil.

Persis seperti potret gelang kecil, dan benda-benda yang ditemuinya di jalan, Oq melanglang ke negeri orang untuk menunggu ditemukan. Tepatnya pada 3 Februari 2008, Oq, memulai perjalanannya di Munich, Jerman. 

“Saya mencoba menjelajahi dunia asing di mana anjing diperbolehkan di angkutan publik. Orang minum bir di mana pun dia mau, dan tutup botol pun bertebaran. Sedangkan di Indonesia, minum bir di jalan pun tidak diperbolehkan.”

Demikian kutipan yang merupakan irisan kecil narasi slideshow foto berjudul “Sidewalk Stories” karya Oq. Karya foto tentang benda-benda yang ditemukannya di jalanan di Jerman ini mendapatkan respon positif dan bahkan mendapatkan penghargaan European Media Art.

Proses melahirkan karya di jalanan Jerman itu sebenar-benarnya adalah proses untuk mengenal dirinya. Menurutnya, untuk berkomunikasi dengan sesuatu yang baru, ia harus mengerti dan memahami dirinya terlebih dulu. Dan ternyata proses itu menjadi penting.

Pertama-tama adalah keinginannya menjadi seniman. Belajar seni secara otodidak dan tidak menempuh pendidikan seni secara khusus, terkadang membuat nyalinya ciut. Tetapi kedua teman baiknya, Tarlen Handayani dan RE Hartanto selalu menyemangati bahwa justru itu adalah hal bagus dan dapat membuat perspektif baru.

“Tarlen dan Tanto adalah dua orang terpenting dalam proses berkarya saya. Tanpa mereka tidak akan terbuka jalan,” tambahnya.

Bekal akademis di Jurusan Jurnalistik mengantarnya ke dunia media. Ia pernah menjajal magang sebagai jurnalis foto di sebuah koran ibukota. Namun ruang gerak yang terbatas dan benturan dengan kebijakan media membuatnya mundur.

Tahun 2005 Oq membulatkan tekad menggelar pameran foto tunggal pertamanya “Bukan Orang Biasa” di Common Room, Bandung. Saat itu, ia berpikir bahwa pameran bisa jadi salah satu jalan menjadi seniman.

Pameran tunggalnya berbuah manis. Banyak kesempatan dan tawaran  berpameran. Salah satunya yaitu Bandung New Emergence 2006 di Selasar Sunaryo Art Space. Momen itulah yang mempertemukannya dengan beberapa seniman lain. Dari pertemuan dan pertemanan  tersebut lahirlah sebuah ruang bernama Buton Kultur 21. Ruang hasil patungan bersama tersebut digunakan sebagai ruang pameran, diskusi, sekolah gratis anak jalan, tempat nongkrong dan juga studio.

”Bagi saya mempunyai ruang seperti itu adalah privillege. Saya tidak ada pengalaman, bahkan tidak paham kebutuhan akan studio. Seperti ini rupanya ruang untuk berkarya,” kenangnya. Ruang yang berumur dua tahun tersebut sangat berperan dalam membentuk proses belajarnya dalam dunia seni.

Namanya semakin dikenal, terlebih saat karya video berjudul Me Vs Angkot terpilih di Singapore Biennale 2008. Hasil workshop video art bersama RE Hartanto itu ternyata menjadi salah satu karya penting. “Akhirnya, saya mengerti bahwa itu adalah sesuatu yang besar. Mungkin juga sebuah tanda dimana saya harus terus melanjutkan,” katanya.


Menjalani Mimpi

Pada tahun 2008, lulusan jurnalistik Fikom Unpad angkatan 2000 ini memutuskan untuk pindah ke Jerman. Ia mengejar mimpi dan menjawab rasa penasarannya dengan bersekolah seni di Diploma of Fine Art, HBK Braunschweig, Jerman. Pada akhir Oktober 2013 nanti dia juga akan melanjutkan studi progam master di Universitas yang sama.

Di Jerman, Oq mendapati bahwa seseorang baru diakui sebagai seniman dan berpameran, jika ia bersekolah di bidang seni. Kondisi yang tak berbeda jauh dengan di Indonesia. Ia sepenuhnya sadar sistem kapitalis memaksa seseorang untuk menunjukkan dirinya adalah “sesuatu.” Rasa penasaran dan keinginannya menjadi seniman itulah yang terus ia kejar. “Saya pun tidak tahu nantinya akan jadi seniman atau tidak, tapi yang terpenting coba dulu,” ungkapnya.

Baginya perjalanan jauh lebih penting dari tujuan. Ia menyenangi perjalanan. “Almost there, but it’s not there yet. Seperti itu mungkin rasa yang selalu saya jaga hingga sekarang,” ujarnya. Baginya, ketika seseorang sudah merasa yakin dan nyaman dengan apa yang dijalani itu justru bahaya. Tidak ada lagi kegelisahan dan pencarian kenapa dan mengapa.

Begitu juga ketika “Sidewalk Stories” hadir dan memperoleh respon positif. Oq tidak mandeg berjalan. Respon dari setiap karyanya dijadikan sebagai tolak ukur untuk selanjutnya berkomunikasi melalui seni. Ia menjajal semua medium untuk berkarya dari performance, instalasi dan juga seni patung. Hal yang sama sekali tidak pernah terpikir ketika dia berada di Indonesia.

Dalam salah satu live performance yang ditampilkannya, ia berdiri berhadapan dengan seorang temannya. Mereka saling memasukkan tangan ke dalam mulut, kemudian memegang lidah sembari berbicara bahasa Jerman. Perasaan mual dan mau muntah membuat mereka kesulitan berbicara. Menurutnya hal itu kerap terjadi pada setiap orang, kesulitan berkomunikasi bila tidak menggunakan bahasa ibu. Dari karya tersebut, Oq berpikir bahwa cara untuk mengerti satu sama lain adalah melalui intonasi dan bahasa tubuh, bukan lagi bahasa verbal.

Perjalanan itu membawanya dalam bentuk baru yang kini dirasanya pas. Dengan latar belakang fotografi, Oq menemukan portrait sebagai cara berkomunikasi yang unik dan menggelitik. Ia mencoba-coba portrait dengan project sederhana bersama sesama teman asing yang tinggal di Jerman. Karyanya itu berjudul “Not Quintessential Series”.

Dalam karya ini, ia menggabungkan dua foto yang serupa tapi tak sama. Yang pertama adalah foto portrait temannya, kemudian foto yang kedua adalah ia memerankan teman yang sudah difoto sebelumnya. Dia melakukannya sedetil mungkin, bagaimana menirukan posisi berdiri, cara tersenyum dan menggunakan segala atribut yang sama.

Pada karya portraitnya kemudian, yakni trilogi “The Happy Family, Happy Employee dan Happy Tourist” ia bercerita tentang dirinya melalui orang lain. Ia mencoba memainkan peran sebagai sebuah keluarga, pekerja dan turis. Dalam project tersebut, ia bekerja dalam sebuah tim besar. Sebagai empunya project, dia mengatur segala sesuatunya dan menyuruh orang orang untuk melakukan seperti apa yang dia mau

“Rasanya aneh, itu seperti dunia saya sendiri. Awalnya, saya tidak pernah merasa saya sedang melakukan self portrait,” ujarnya. Project itu adalah tentang dirinya. Proyeksi bagaimana seharusnya sebuah seni itu terlihat. Karyanya yang personal mencoba mencuri perhatian publik. Ia menggunakan dirinya untuk membuka wacana tersebut, yang mungkin bisa terjadi pada orang lain.

Produk Akhir ?

Dalam portrait, menurut Oq ada yang lebih dari sekedar menyamakan atau menampilkan kemiripan. Di sana ada idiosyncracy, atau proses pembentukan individu. Portrait menampilkan bagaimana proses itu muncul, yakni pengaruh orang tua, lingkungan tempat tinggal, dan pergaulan. Dalam portrait akan muncul orang dengan beragam mimik, busana, dan bahasa tubuh yang menyiratkan banyak hal.


Proses pembentukan identitas yang mencuat dalam sebuah foto diri.  Menurutnya, itulah yang dinamakan dan yang seharusnya ditampilkan dalam sebuah portrait. Hal itulah yang mendorongnya untuk membuat karya portrait tentang dirinya dan berusaha menampilkan segala pengaruh yang didapat dalam proses berkarya.

Namun pencarian diri tak berhenti pada satu tempat dan waktu. Bagi penganut kapitalis, identitasnya bisa jadi berhenti pada satu titik. Setiap orang harus menjadi “sesuatu. Dan apakah sesuatu itu bagi Oq? Apakah dirinya juga sebuah produk akhir?

 Ia gelisah saat zona nyaman menyergapnya di Jerman. Kepulangan Oq ke Indonesia dalam tiga bulan ini juga adalah salah satu bagian proses pencariannya. Ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri. ”Apakah memang saya akan menjadi seniman pada akhirnya?” ungkapnya.

Di Sabtu sore itu, ia sekali lagi bertanya gelisah, “Jadi apakah proses pencarian saya ini bisa dibilang sebagai karya seni?” ujarnya pada saya.

Kami sama-sama tak tahu jawabannya. Kami sama-sama berjalan, menanti untuk menemukan dan ditemukan, lagi dan lagi. Mari kita merespon karya dan wacana Oq dengan menyapanya di Hello Project 2, Selasa 8 Oktober 2013 di Tobucil and Klabs, Bandung.

Lebih jauh mengenal Oq dan karyanya http://oqutama.net/

 (Arum Tresnaningtyas Dayuputri)

No comments:

Post a Comment