cari arsip

11.14.2013

helloproject#1 Rupa-rupa dalam Menyapa Karya Amenk

Kali ini Sabtu 19 Oktober 2013 para seniman memenuhi beranda tobucil, khususnya untuk mengapresiasi karya dari Amenk yang pada dua minggu sebelumnya telah mempresentasikan karya-karyanya. Dalam helloproject tobucil, karya seorang seniman tidak hanya dipresentasikan, tetapi juga wajib diapresiasikan oleh para peserta yang hadir agar arah komunikasi dalam helloproject ini tidak monoton. Namun yang unik dari helloproject dalam apresiasi karya adalah dengan membuat karya lagi. Seperti Sabtu ini. Cukup banyak peserta helloprojectnya Amenk yang ingin memperihatkan karya mereka sebagai bentuk apresiasi.

Karya pertama dari  Luqmanul Hakim yang mengangkat gambar ‘Akhwat Merokiz’ namun dengan bentuk yang berbeda, mendetail, penuh kesan sensitivisme dan feminin dengan bunga-bunga sebagai motifnya. Pria berjanggut yang akrab di sapa Hakim ini berkata dalam pembuatan karyanya ia melihat Amenk dan karyanya yang selalu sederhana, tegas, dan lugas. Kesederhanaan itulah yang memberi pemahaman pada Hakim dalam membuat karya apresiasinya, bahwa dalam karya harus selalu ada ‘cara pribadi’ yang menjadi jiwa dari karya itu sendiri. Peserta kedua yang tampil setelah Hakim adalah Resa Tio yang menyajikan kolase digital. Masih dalam ‘Akhwat Merokiz’, ia memilih mengubah penampilan tiga perempuan dalam karyanya menjadi biarawati yang kepala bagian atasnya terpotong oleh tiga hewan yang berbeda. “masing-masing orang memiliki sisi kebinatangannya sendiri.” Ucapnya. Peserta lain yang juga mengapresiasi “Akhwat Merokiz” adalah Atjeh. Mengambil sisi satir dari karya Amenk, ia menghadirkan karya berupa poster film dengan perempuan berkerudung yang merokok dengan palu di tangan kiri dan arit di tangan kanannya. “ini adalah akhwat ‘kiri’ yah, seperti akhwat yang ‘Marxis’” ucapnya.

Lain halnya dengan Bambang, ia memilih mengapresiasi tiap bentuk teks dalam karya Amenk. Menurutnya, teks-teks atau wacana yang ada dalam karya Amenk sangat beragam, kadang sederhana, kadang penuh metafor, bahkan kadang tak bisa dimengerti. Bambang membuat karya yang sangat unik – alih-alih mengambil isu tembakau yang sedang cukup panas di dunia maya belakangan ini – sebuah bungkus rokok bermerek ‘Rokok Kont’ dengan warna kuning, merah, dan hitam. Alasan ia memilih warna-warna tersebut adalah berdasarkan representatif anak punk.

Sama halnya dengan Bambang, Ghandi dan Fika – duo seniman yang berduet secara total dalam HelloProject kali ini – juga mengangkat bentuk teks dalam karya Amenk. Mereka mentransformasikan setiap wacana dalam karya Amenk menjadi lagu yang beraliran ‘garage’. Lagu-lagu yang mereka buat juga mereka kemas dalam album berjudul ”BUAS” yang berbentuk CD dan kaset komplit dengan cover album dan packaging ciamik berwarna keemasan. Benar-benar total! Keduanya ingin menyajikan cara lain dalam menikmati sebuah karya, tidak melulu visual.

Karya yang tidak kalah unik juga dibawakan oleh Heri H. Suhandi atau Array dan Rabita. Keduanya  mengangkat karya Amenk “Punxxrock Berdikari dalam Sanubari Kemerdekaan”. Array membuat sebuah cerpen berupa hasil wawancara imajiner berjudul “cerita di baik es mambo”. Cerpen itu ia buat sebagai bentuk apresiasi karya Amenk dengan mengambil sisi filosofis yang baginya mungkin juga merepresentasikan apa yang Array lakukan sehari-hari. Sedangkan Rabita menyajikan gambar kolase boneka sang anak punk penjual es mambo yang bertumpuk hanya memakai kolor sebagai representatif anak-anak punk yang menjadi korban fashion.

Lukisan perempuan setengah jongkok dan penuh warna dibawakan oleh Morgan yang berdasarkan karya Amenk “Penantian”. Menurutnya, karya-karya Amenk selalu mengambil kejadian-kejadian nyata. Makanya, pemberian warna yang menyolok namun apik pada lukisan perempuan karya Morgan ia pilih sebagai bentuk penyelarasan dengan kenyataan. Baginya, dengan cara menonjolkan warna dalam karyanya, ia dapat melukiskan sisi sensitivisme pada Amenk.

Pemahaman sebuah karya pada setiap orang pastilah berbeda-beda, namun dalam karya Amenk di HelloProject ini, hampir semua pesertanya melihat bahwa karya-karya Amenk selalu mengambil hal-hal yang bersinggungan dengan kenyataan. Seperti foto-foto Jamu yang dibawakan Cintya Nur Pratiwi. Baginya, foto jamu itu selaras dengan karya Amenk yang sederhana secara visual, seperti penceritaan dalam keseharian yang bisa dipublikasikan.

Walaupun para seniman peserta HelloProject menyapa Amenk ini hampir seluruhnya melihat kesederhanaan dan keterkaitan dengan kenyataan dalam setiap karyanya Amenk, namun berbagai bentuk karya apresiasi mereka tak ada yang sama. Lain tubuh, lain juga pikiran. Berangkat dari kesederhanaan, kelugasan, dan berbagai nilai filosofis maupun praksis dalam tiap karya Amenk tidaklah membatasi keluasan bentuk apresiatif orang-orang terhadap karyanya. Mungkin saja justru sebaliknya, apa yang Amenk hadirkan dalam setiap karyanya itulah yang membuat para penikmatnya dapat melihat segala keluasan pandangan maupun pemahaman dibaliknya.


No comments:

Post a Comment