cari arsip

11.15.2013

HelloProject#2 Keluasan Emosi dalam Menyapa Karya Oq

Minggu lalu Oq telah mempresentasikan karya-karyanya dengan cukup unik. Walaupun sang seniman utama berhalangan hadir karena sakit, namun tidak membatasi para peserta yang hadir untuk tetap berapresiasi. ‘dia’ sebagai subjek yang menggambarkan diri Oq minggu lalu telah membawa efek yang berbeda-beda bagi masing-masing keenam perempuan ini. Siapa sajakah mereka?

Kumpulan foto dalam showreal yang disajikan lewat film master menjadi awal presentasi dalam hello project Oq minggu ini. Foto-foto yang terbagi ke dalam tiga tema berbeda dibawakan oleh Dina. Perempuan imut berkacamata ini memilih tema foto; place, people, dan tentang gang. Tema foto yang pertama ia pilih dengan seksama, berisikan beberapa sudut kota Bandung yang telah ia datangi. Tema foto yang kedua menyajikan potret orang-orang yang masih di kota yang sama dengan bermacam-macam aktifitas. Sedangkan ‘tentang gang’ lebih mirip disebut sebagai cerita dalam foto, mengambil lokasi yang dekat dengan tempat tinggalnya, Dina menemukan hal-hal unik dari gang yang selalu dilaluinya itu. Dengan menghadirkan showreal tersebut, Dina membawa perasaannya sebagai ‘pendatang’ di kota Bandung tercinta ini. Perempuan bersuara imut ini mengatakan bahwa ia ingin menghadirkan perasaan yang sama dengan Oq. “Oq adalah pendatang di Jerman, dan saya juga pendatang di Bandung. Saya pikir walaupun berbeda tempat tapi mungkin saya dan Oq sempat merasakan hal yang sama” tuturnya.

Karya kedua dalam hello project kali ini hadir berupa gambar sketsa sederhana oleh Dini. Dengan latar belakang putih polos, kepala manusia tidak berwajah, dan empat topeng wajah manusia dengan mimik yang berbeda-beda. Berdasar pada karya Oq sebelumnya dalam Not QuintessentialSeries yang menggambarkan individu-individu yang berbeda dalam prosesnya menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar, Dini mendapati bahwa sebenarnya manusia bagaimanapun bisa menjadi apa saja. Baik yang diinginkan maupun tidak. Dengan menyederhanakan berbagai konteksnya ia memilih untuk menghadirkan yang dasar di dalam karyanya. “menurut saya, segala hal yang ragam itu berasal dari yang dasar. Sama hal nya dengan Oq, dia bisa membuat banyak karya dari hal-hal dasar yang melingkupi dirinya. Rasa tidak nyaman, bisa berkembang menuju perasaan-perasaan lainnya yang cukup mengganggu. Juga sebaliknya, rasa puas bisa mendatangkan perasaan yang lebih besar dan membahagiakan.” Ucapnya.

Karya selanjutnya adalah TheTrilogy Project versi Meicy. Dalam karyanya, Meicy menggunakan dirinya sendiri sebagai model. Pada Happy Family, ia menjadi ayah, ibu, sekaligus anak. Pada Happy Tourist pun juga sama. Pada Happy Employee ia menjadi seorang karyawati dengan make up cukup tebal. Perbedaannya dengan karya Oq di sini adalah mimik wajah yang dihadirkan dalam karya Meicy. Ia dapat menggambarkan perasaan yang terbawa pada prosesnya. Bagaimana ekspresi wajah dapat menunjukkan pribadi masing-masing manusia ketika dihadapkan pada kondisi pembekuan peristiwa berupa potret. Seolah-olah bagi siapapun yang melihatnya dapat mengerti bagaimana pribadi seseorang dari sebuah foto.

Masih dalam foto, karya selanjutnya adalah ‘sync mode on’ oleh Tarlen. Pemilik Tobucil sekaligus teman baik Oq ini menyajikan karya berupa tiga foto yang disatukan. Foto pertama adalah sang seniman yang tak hadir dalam posisi yoga, foto kedua adalah potret kota Borin di Jerman dengan segala keteraturannya, dan foto ketiga adalah salah satu sudut kota Bandung dengan kesehariannya. Proses sinkronasi yang dihadirkan dalam simbol pada karya Tarlen dihadirkan dalam transparasi yang sama. Ia berkata bahwa, proses itu belum selesai, sehingga bentuk transparasi yang sama mencerminkan bahwa tidak ada yang dominan. Foto-foto itu dipilih Tarlen sebagai representatif dari bentuk kekhawatiran seseorang terhadap teman baik. Bagaimana kedua tempat yang memiliki kondisi saling bertolak belakang – Borin sangat rapi, teratur, disiplin, dan Bandung yang cenderung chaos – itu dapat mempengaruhi diri Oq yang sekarang. Bagian mana yang akan Oq pilih dalam dirinya untuk tetap disimpan dalam diri, dan bagian mana yang akan Oq pilih untuk dihapus.

Alunan suara merdu dalam lagu berjudul ‘kupulang’ disajikan oleh Theo sang Perempuan Sore. Perempuan manis sekaligus mentor kelas Public Speaking ini membawa feeling dalam lagu ciptaannya yang bernada ‘kontradiktif’. Berdasarkan presentasi Oq minggu lalu, Theo mendapati bahwa ada sesuatu dalam diri Oq yang masih saling bergelut dalam menjalani pribadinya. Hal itu dikuatkan juga oleh Tesla, seorang pemusik yang hadir pada hello project ini. Menurut Tesla, nada yang dinyanyikan Theo saat mendendangkan kata ‘kupulang’ di akhir lagunya tidak mencerminkan rasa bahagia seseorang yang biasanya bahagia jika akan kembali ke tempat yang disebut ‘rumah’. Seperti ada perasaan yang lain yang berkebalikan dari rasa bahagia. Theo pun mengamini dengan menambahkan karya keduanya berupa rekaman siaran saat menyapa para pendengar. Siaran yang menceritakan kesedihan seorang perempuan yang baru saja patah hati namun diucapkan dengan intonasi yang ceria. Sangat kontradiktif bukan?

Penutup karya dalam presentasi hello project kali ini dibawakan Arum sang mentor acara. Sebagai penampil yang paling akhir, karya yang dibuatnya sangat menghebohkan. Berlandaskan pada ‘pencarian diri’ melalui self potrait yang didapatkan dari karya-karya Oq, Arum menyajikan perasaan yang hadir ketika seseorang menjadi seorang yang lain. Mengambil citra seseorang yang ingin menjadi seperti idolanya, Arum menghadirkan kumpulan foto seorang penyanyi dangdut yang tak lain adalah dirinya sendiri! Dengan riasan wajah mencolok, gaun kuning terang yang ketat, dan pose yang benar-benar penyanyi dangdut. Para peserta yang hadir sampai riuh melihat karyanya. Benar-benar heboh! Baginya, seorang penyanyi dangdut adalah sosok idola yang setara dengan profesi apapun yang dijalankan idola orang lain yang beragam.


No comments:

Post a Comment